Glorianet - Tindakan represif petugas Dinas Ketertiban dan Ketenteraman (Tramtim) Pemprov DKI Jakarta dalam menertibkan pedagang kaki lima (PKL) di kawasan Salemba dan Diponegoro, Jakarta Pusat, Kamis (24/3) petang, dikecam oleh Badan Pengurus Cabang Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (BPC GMKI). Tindakan aparat tersebut dianggap seperti tawuran antarpelajar.
"Belum hilang dari ingatan kita tindakan Tramtib yang menertibkan PKL dengan buntut penembakan terhadap salah satu warga, Februari 2005 lalu. Kini penembakan itu terjadi lagi sehingga memicu perlawanan dari masyarakat terhadap upaya penertiban PKL," kata Ketua GMKI Jakarta, Sahat Dohar Manullang dalam siaran pers yang diterima Pembaruan di Jakarta, Sabtu (26/3).
Penertiban pedagang kaki lima (PKL) di Jalan Salemba Raya dan Diponegoro tersebut dilakukan aparat Tramtib dan Linmas Jakarta Pusat karena tempat tersebut akan dijadikan kawasan percontohan bebas pedagang kaki lima.
Pada penertiban Kamis sore tersebut, aparat Tramtib dan Linmas mendapat perlawanan dari para pedagang dan warga. Hal ini terjadi karena aparat Tramtib dan Linmas mengambil paksa beberapa gerobak pedagang.
Padahal, para pedagang sebenarnya telah bersiap menyingkirkan barang-barang mereka. Hanya saja, aparat Tramtib dan Linmas keburu mendekat dan langsung mengambil paksa gerobak para pedagang tersebut.
Menurut BPC GMKI, kejadian ini sebenarnya tidak perlu terulang lagi jika saja dilakukan dengan cara-cara yang persuasif.
Sikap tidak bersahabat dan kasar justru menjadi cara yang sering dilakukan oleh petugas Tramtib sehingga tidak menarik simpati dari masyarakat.
Di sisi lain, peraturan daerah (Perda) tentang penertiban PKL di pinggir jalan raya tidak memberikan jalan keluar sama sekali bagi PKL. (GCM/SP-WD/N6)
Sumber: www.glorianet.org/arsip/b5802.html